Kamis, 26 Januari 2017

SELAMAT, BAPAK ANTASARI AZHAR



Alhamdulillah saya turut bahagia ketika bapak Antasari Azhar ( Mantan Ketua KPK ) Pada tanggal 10 November 2016 keluar dari penjara dengan status bebas bersyarat serta  mendapatkan Grasi dari Bapak Presedien. Grasi tersebut diberikan pada tanggal 16 Januari 2017. Pak Jokowi memberikan grasi maksimal, yaitu pengurangan sisa masa tahanan enam tahun dan menghapus bebas bersyarat. Dengan demikian, Bapak Antasari bisa mencalonkan diri sebagai anggota DPR, kepala daerah, hingga ditunjuk menteri atau pimpinan lembaga negara oleh Presiden. ( Jawa Pos 26 Januari 2016 ).

Perlu diketahui bersama Grasi berasal dari “Gratie” dalam bahasa Belanda “Granted” dalam bahasa Inggris. Yang berarti wewenang dari kepala Negara untuk memberikan pengampunan terhadap hukuman yang telah dijatuhkan oleh hakim, untuk menghapus seluruhnya, sebagianatau mengubah sifat/bentuk hukuman itu. sedangkan menurut pasal 1 Undang – undang nomor 20 Tahun 2002, yang dimaksud Grasi adalah pengampunan berupa perubahan, peringanan, pengurangan atau penghapusan pelaksanaan pidana kepada terpidana yang diberikan oleh Presiden. 

Bapak AA adalah sosok yang sangat saya kagumi. Beliau adalah sosok yang garang terhadap kejahatan korupsi. Sehingga banyak kalangan dari politisi, pengusaha, serta oknum pemerintah yang membencinya. Kasus yang menjeratnya terindikasi direkayasa atau dipolitisasi. Dalam kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen pada Februari 2010. Beliau dinyatakan sebagai aktor intelektual sehingga divonis 18 Tahun Penjara. Seperti inilah kondisi di Negara kita tercinta. Orang hebat, berani serta jujur dalam memberantas Korupsi tanpa pandang bulu tapi malah dibenci. Ya . .  inilah realita yang tak bisa kita pungkiri.

Pagi tadi saya melihat berita di Metro Tv yang menghadirkan langsung bapak AA, dalam percakapan tadi saya banyak mendapatkan banyak rangkuman diantaranya. Bapak AA ingin penyidik membuka kembali kasusnya, bapak AA memiliki 50% bukti untuk mengungkap kasus yang membelitnya, dalam kasus yang menjeratnya banyak kalangan politisi, pengusaha yang bermain, serta bapak AA menyindir salah satu mantan Presiden ketika beliau masih dipenjara. “Jangankan membantu, empati saja tidak”. Ucapan beliau yang terakhir ini yang membuat saya penasaran siapa sebenarnya dalang dibalik kasus Bapak AA yang terindikasi di kriminalisasi? Menarik untuk kita tunggu. Semoga dengan berjalannya waktu kasus Bapak AA dibuka kembali oleh penyidik karena menurut Bapak AA saya hanya mempunyai bukti tapi saya tidak mempunyai wewenang untuk membukanya, yang mempunyai wewenang adalah penyidik dan pihak aparat hukum lainnya. sekarang pertanyaannya beranikah pihak penyidik atau pihak aparat hukum lainnya membuka kasus ini kembali? Karena hal ini sudah menyangkut elit – elit penguasa.

Bapak Antasari Azhar, sekali lagi selamat atas grasi yang diberikan oleh presiden, semoga dengan kebebasan ini bapak bisa beraktivitas kembali seperti sedia kala. Semoga dalam aktivitas yang dijalani diberikan perlindungan karena saya yakin pasti masih ada orang yang membencinya. Beliau adalah sosok pemberani dalam hal kebenaran jadi sudah barang tentu banyak yang membenci. Inilah potret suram negeriku tercinta, entah sampai kapan seperti ini? Saya doakan semoga Bapak bisa menjadi ketua KPK kembali, karena dengan bapaklah marwah KPK dihormati, disegani bahkan ditakuti. Semoga . . .

( PELAYAN ) BIARKAN TUHAN YANG MEMIKIRKANMU



Jabatan, kekuasaan dan wewenang hanyalah sebuah aksesoris kecil. Sedangkan melayani dan peduli merupakan inti dari kepemimpinan yang baik ( Djajendra ). 


Menurut Suradinata ( 1997 : 11 ) pemimpin adalah orang yang memimpin dua orang atau lebih, baik organisasi maupun keluarga. Dari dua pernyataan tersebut secara sederhana saya mengartikan Pemimpin adalah seorang pelayan. Sehingga seorang pemimpin wajib memberikan pelayanan prima terhadap orang yang dipimpinnya.


Menjadi seorang pelayan itu harus siap menderita, apalagi menjadi pelayan di lingkup organisasi kemahasiswaan, organisasi Masyarakat yang berbeda dengan menjadi pelayan di tataran organisasi pemerintah yang meliputi eksekutif maupun legislatif. tapi pada hakekatnya dimanapun tempatnya semuanya sama bahwa pemimpin adalah pelayan. Jadi menjadi pemimpin harus siap melayani bukan malah memanfaatkan sebuah kekuasaan untuk kepentingan pribadi maupun kepentingan kelompok tertentu.


Diakui atau tidak menjadi seorang pelayan itu memang harus siap dihina, dicuekin, dimusuhi, bahkan diftnah. Seperti yang telah dijelaskan diatas intinya pemimpin itu harus siap menderita. Sejak pertama kali mencoba untuk menjadi seorang pelayan diorganisasi banyak hal yang saya dapatkan. Lika – liku menjadi seorang pelayan memang luarbiasa karena membutuhkan kesabaran, kepedulian, pengabdian serta keikhlasan. Semenjak mengabdi diorganisasi IKSASS ( Ikatan Santri Salafiyah Syafi’iyah ) sub Rayon Banyuwangi tengah, Osis SMK 1 Ibrahimy Sukorejo, anggota organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, selanjutnya menjadi pelayan di kelas, menjadi pelayan di BEM FISIP Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi serta menjadi pelayan di organisasi HIPMI PT ( Himpunan pengusaha pemuda Indonesia Perguruan Tinggi ). Dari beberapa organisasi itulah saya belajar bagaimana menjadi seorang pelayan yang berusaha memberikan pelayanan yang terbaik walaupun tak sempurna. 


Pertama, Menjadi pelayan harus mempunyai kesabaran, karena pengalaman yang saya alami jika tidak sabar maka akan sulit menciptakan pelayanan yang sesuai harapan atau malah memicu ketidakharmonisan yang dilayani jika tidak sabar. Karena begini kadangkala seseorang yang dilayani tidak tahu diri dengan apa yang kita berikan. Setelah kita layani kebutuhannya malah cuek. mengucapkan terimakasihpun kadang tidak. Inilah contoh yang saya alami dalam memberikan pelayanan. Jadi intinya harus sabar meskipun pelayanan kita tidak dihargai.  


Kedua, menjadi pelayan harus siap peduli dengan lingkungan sekitar, peka terhadap realitas sosial yang terjadi tanpa memandang siapa yang akan dilayani. Ya, pelayan harus siap peduli entah bagaimanapun konsekuensinya. Pernah suatu ketika membantu orang lain karena tersandung masalah sampai akhirnya menemukan solusi walaupun tidak sampai akhir yang diharapkan. Setelah itu, Apa yang terjadi? malah orang tersebut menjatuhkan dengan cara menyebarkan hal – hal yang tak benar kepada orang lain. Jika seperti ini bagaimana? Jika ditanya sakit gak digituin? Jawabannya ya tentu sakit. Terus apa yang di lakukan? Ya berusaha menerima walupun sebenarnya tak terima. Dari realitas sosial ini saya diajari bahwa kepedulian kita terhadap orang lain belum tentu dibalas dengan kepedulian pula. So, belajarlah menerima walupun kepedulian kita tak dihargai.


Ketiga, menjadi pelayan harus memiliki rasa pengabdian yang tinggi. Karena jika tidak, pelayanan yang kita berikan tidak akan maksimal pasti ada menggerutunya. Yang diniati pengabdian aja terkadang masih menggerutu, apalagi yang tidak diniati mengabdi. 


Keempat, menjadi pelayan harus Ikhlas. Inilah hal yang terkadang sukar, berat untuk di aplikasikan dalam memberikan pelayanan. Karena pada dasarnya ikhlas itu tak meminta imbalan apapun dalam apa yang telah kita berikan. Ketika seorang pelayan memiliki rasa ihklas yang kuat niscaya pelayanan yang diberikan terasa tak berat dan akan melahirkan benih – benih kebahgiaan.


Suatu hari aku pernah bercerita serta bertanya kepada Ibu. Bu, ko aku memikirkan orang lain, padahal aku tidak ada yang memikirkan? ( Sambil lalu tersenyum ). Lalu Ibu menjawab “Biarkan Allah yang memikirkanmu”. Jawaban yang singkat tapi membuat hati terhenyak seketika. Dari jawaban Ibu, aku mencoba berfikir apa maksud dibalik jawaban tersebut. Aku terus meraba – raba pernyataan itu hingga akhirnya saya menemukan kesimpulan bahwa teruslah memberikan yang terbaik kepada orang lain walaupun tak terbalaskan, teruslah memberikan pelayanan yang terbaik walaupun tak dihargai, teruslah mengabdi walaupun dipandang sebelah mata, dan yang terakhir teruslah memikirkan orang yang membutuhkan bantuan walupun kita tak dipikirkan karena biarlah allah yang akan memikirkan kita. Ketika Allah yang memikirkan kita bukan tidak mungkin kita akan diberi kebahagian yang lebih dari apa yang telah kita berikan kepada orang lain. Insyaallah.  


Berjuang & Berproses


Rabu, 25 Januari 2017

TAK PUAS TAPI TETAP HARUS TERSENYUM



Semester 7 adalah semester yang ditakuti oleh sebagian mahasiswa. diamana masa – masa indah dalam perkuliahan semester 1 hingga semester 6 tidak lagi dirasakan sepenuhnya. Di semester 7 mahasiswa harus memulai menulis Skripsi yang diawali dengan penulisan Proposal. Dalam penulisan proposal skripsi tersebut harus melalui beberapa tahap yang harus dilalui. Mulai mengajukan judul hingga menunggu judul di acc, setelah di acc pengerjaan proposal pun dimulai. Dalam mengerjakan proposal skripsi ini membutuhkan sebuah perjuangan yang harus diimbangi dengan kesabaran. Sabar dalam mengerjakan, sabar dalam mencari refrensi yang akurat yang bisa dipertanggungjawabkan kebenaran serta sumbernya, sabar dalam melakukan revisi kepada Dosen pembimbing utama serta dosen pembimbing anggota, karena terkadang kedua dosen ini tidak sinkron sehingga membutuhkan pemikiran yang dewasa untuk berada di tengah pemikiran DPU dengan DPA, sabar ketika proposal di corat – coret dan sabar ketika bimbingan tak menghasilkan perubahan. Ya, ini adalah lika - liku proses yang harus dilalui oleh mahasiswa semester akhir.

Tahapan proses diatas sudah saya lalui dengan segala warna - warninya. hingga akhirnya tepat hari selasa tanggal 24 Januari 2017 Saya Seminar proposal bersama Ika, Tomy dan Sarita. Saya mendapatkan giliran terakhir, Ketika ketiganya selesai presentasi, moderator pun mempersilahkan saya untuk presntasi. Dengan ucapan bismillah saya memulai. Dalam presentasi malam itu Agak gugup sampai – sampai menyebut tujuan pembuatan skripsi ini untuk gelar doktor hahaha . . . entahlah saya saja gak faham kenapa ko larinya ke doktor ( Biarkan ini menjadi urusan tuhan ). Dalam presentasi malam itu, saya sangat tidak puas, kecewa karena proposal yang saya presentasikan tak selesai sampai akhir karena waktu yang membatasinya. Dalam presentasi tersebut para narasumber memiliki waktu 10 Menit dan ini bagi saya adalah waktu yang sangat singkat untuk presentasi proposal skripsi. Beda halnya dengan mahasiswa yang menjadikan presentasi tersebut hanya formalitas pokoke maju mungkin waktu 10 Menit itu cukup atau bahkan kebanyakan. Ketika saya bertanya ke teman di fakultas ekonomi dan fakultas hukum waktu yang diberikan rata – rata setengah jam, ko jauh ya perbedaannya dengan fakultas saya yang hanya 10 menit. Ah entahlah ini hanya sebuah perbandingan. Kekecewaan saya juga terjadi ketika Dosen pembimbing memberikan masukan kepada narasumber tak terkecuali saya. Intinya saran tersebut sangat menohok dalam hati. Karena menurut saya saran dari dosen tersebut sudah diberikan kepada saya saat bimbingan, mangkanya saya bingung ko malah dibahas lagi di kelas. Hingga akhirnya sebelum ditutup saya memberanikan diri menanyakan perihal kritik yang diberikan dosen pembimbing. Karena pada prinsipnya ketika mahasiswa dikritik, selagi kritikan tersebut mahasiswa masih bisa memberikan argumen yang kuat maka hukumnya sah – sah saja mahasiswa menyampaikan pernyataan, pertanyaan atau bahkan kritik pada dosen karena pada dasarnya mahasiswa itu belajar. jadi diusahakan jangan diam ketika dosen memberikan kritik, jadikan kritik sebuah nilai serta sebuah pembelajaran untuk mendapatkan pengetahuan baru.

Keesokan harinya setelah presentasi, saya melakukan bimbingan ke Dosen pembimbing. Datang jam 09.30 bimbingannya jam 11.30 itupun tidak jadi karena Bu Leni belum mengoreksi proposal saya yang sudah diperbaiki dan ditaruh di fakultas. La . . . ternyata ini yang membuat Bu Leni mengkritisi ulang proposal saya. Ah terkadang hidup seperti ini. Ya . . . sudahlah yang lalu biarlah berlalu. Intinya malam itu saya tidak puas tapi mencoba untuk tetap tersenyum karena dari ketidakpuasan tersebut akan melahirkan motivasi untuk mencapai sebuah perbaikan.

Terimakasih DPU & DPA  yang saya hormati serta banggakan ( Bpk. Drs. Subur Bahri, M.Si & Ibu Leni Vitasari, S.IP., M.Si) dari beliau saya mendapatkan banyak hal serta   pelajaran yang belum saya dapatkan, dari beliau saya belajar disiplin ilmu yang belum diketahui, dari beliau saya berfikir bahwa bacaan saya sangat kurang sehingga memotivasi untuk terus membaca serta menambah wawasan. Terimaksih atas didikan serta dedikasi yang telah diberikan. Semoga selalu diberi kesehatan, umur yang berkah, serta kebahagian dalam menjalani kehidupan di dunia ini. bapak, Ibu dosen barokahmu selalu ku tunggu.